Skip to main content

Posts

KEMIRIPAN BANGSA MAORI DAN BATAK

Kebetulan saya pernah ketemu orang yang memanggil orang yang sudah  dituakan dengan panggilan Patua. Saya kaget juga mendengarnya. Terus saya tanya ke orang itu kenapa ia dipanggil Patua. Terus saya tanya juga apa ia Maori. Ia mengakui bahwa dirinya Maori. Terus saya tanya, koq hampir sama dengan panggilan di Batak. Rupanya ia pun sudah tahu itu dari yang pernah dibacanya walaupun tidak pernah ke tanah Batak. Saya sebelumnya mencatat beberapa kesamaan bahasa dan rumah adat (whanui). Ada sada, dua, tolu, dstnya di Batak seperti halnya Maori. Di tanah Batak ada bagas godang tempat berembug adat seperti halnya Maori. Seremonial adat pun persis sama, seperti bagaimana pentingnya peran ibu/wanita dalam menerima tamu. Kami pun tadi becanda soal banyaknya seremonial adat Maori dan Batak yang mirip. Maori memiliki panggilan Patua dan Matua untuk paman. Di tanah Batak itu dipanggil Bapatua dan Amangtua. Sempat tadi disebut juga panggilan Ina untuk bibi di Maori. Saya nggak ngeh kalau a...

GINJAL DAN SISTEM DESTRUKSI PADA MANUSIA

Seorang teman pernah bercerita -- ketika orang tuanya meninggal -- pada dasarnya di setiap manusia itu sudah ditanamkan destructive system . Sistem ini yang telah mengatur kapan seorang manusia itu akan bertemu Sang Khalik, Yang Maha Pencipta. Itu tidak terhindarkan. Saya awalnya tidak begitu mengerti apa yang dimaksudnya tentang sistem destruksi ini. Sampai minggu lalu saya mengikuti test darah di http://www.labtests.co.nz/ (tanpa biaya apapun karena di NZ ditanggung oleh negara). Biasanya dalam test darah kita hanya fokus terhadap tingkat kolesterol buruk kita. Logikanya, kolesterol buruk jika dibiarkan pada angka di luar normal akan menumpuk di pembuluh darah jantung kita. Yang lama-lama, akan menghambat fungsi jantung. Karenanya, kita pun selalu berusaha agar tingkat kolesterol buruk kita berada pada skala normal. Jika kita bisa mengendalikan kolesterol, maka jantung kita akan aman dan mungkin umur kita bisa lebih panjang. Artinya, kita bisa memperpanjang umur kita dengan mengen...

INDONESIAKU, PERSOALAN KARAKTER BANGSA ATAU SISTEM?

Catatan ringan menyambut membaiknya indeks persepsi korupsi Indonesia.  Minggu lalu saya mengikuti sharing seorang owner restoran yang menjual steak dengan harga 'terjangkau' di Indonesia. Ia mempunyai sekitar 80 cabang dan 1700 karyawan. Target market -nya para mahasiswa atau mereka yang berpendapatan menengah ke bawah. Kebetulan, pemilik restoran ini sedang berwisata ke Australia dan mempunyai teman di Auckland, Selandia Baru. Oleh temannya ini, ia digadang-gadang untuk berbagi pengalamannya dalam mengelola restorannya ke warga Indonesia yang bermukim di Auckland. Khususnya, berbagai pengalamannya dalam mengembangkan sekolah tahfidz dari pendapatan yang dihasilkan restoran tersebut. Sebagian pendapatan dari restoran tersebut digunakan untuk mendukung sekolah tahfidz tersebut. Suatu usaha yang mulia. Ketika tiba di Auckland, pemilik restoran ini sangat kagum dengan apa yang dilihatnya. Dua komentarnya yang saya catat. Pertama, dia kagum ketika sedang akan menyeberang ter...

"MEMPOLITISASI" KINERJA MENTERI

Publikasi indeks 'pengelolaan' kinerja kementerian/lembaga yang diusung oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN dan RB), Yuddy Chrisnandi, ternyata menimbulkan kontroversi. Padahal, publikasi indeks ini adalah hal yang lazim saja selama ini dan telah dilaksanakan bertahun-tahun sebelumnya. Bisa dibilang, kebiasaan mempublikasikan indeks ini telah didorong sejak reformasi awal 2000-an di Indonesia sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas layanan sektor publik. Pengumuman ini pun biasanya ditanggapi biasa-biasa saja oleh para politisi di tingkat nasional. Baru kali ini pengumuman ini mendapatkan tanggapan yang serius dari para politisi dan leader di sektor publik. Di satu sisi, kita sangat mengapresiasi tanggapan keras dari para politisi tersebut. Utamanya adalah ketika mereka berbicara tentang siapa yang berhak menilai kinerja seorang menteri atau pimpinan lembaga. Walaupun tidak mencerminkan langsung kinerja seorang menteri/pimpinan lembaga...

"HOW STUDENTS IMPACT RENT PRICES IN NZ"

A nice article from NZ Herald Herald Insights: How students impact rent prices Changing student populations have a real impact on rental prices for the university-centred cities of Dunedin and Wellington. Rental bond information from Tenancy Services, mapped into interactive graphics by the Herald, show clear fluctuations in average rental prices in both cities that correlates with the academic year. Click here to see how rents have changed since 1993 from our data journalism website Herald Insights. Dunedin property spokeswoman Liz Nidd said a substantial number of leases for flats in Dunedin were full 12 month leases, despite not being occupied all of that time. "Those properties sit there empty over the summer in most cases," she said. Many students continue to pay rent after leaving town at the end of the academic year, she said. "As a property owner, if you are going to provide property for that university market you've otherwise got an asset ...

THE DISINTEGRATED SYSTEMS OF SPARK'S COMPLAINT MANAGEMENT SYSTEMS

To survive, corporations must respond effectively to their customers’ needs. When serving customers, corporations require an integrated process, typically supported by IT systems. However, some companies already have established processes before implementing IT systems. Another challenge is that companies often have legacy systems or old IT platforms that need to be replaced with new technology platforms to meet business needs. Yet, these new platforms may not be easily integrated with the legacy systems, leading to the continued operation of disintegrated IT systems. These companies may also maintain redundant IT systems that cannot communicate with each other, making it difficult to manage them due to the complexity of these disintegrated systems. Despite these challenges, companies must continuously initiate integration initiatives to ensure their survival and competitiveness in the global market. Leaving disintegrated IT systems in place can damage a company’s corporate image and l...

MENEGAKKAN AKUNTABILITAS DAN DEMOKRASI DI INDONESIA

Siapakah yang lebih powerful , seorang menteri atau anggota DPR? Pertanyaan ini tentu menarik ketika kita melihat peliknya situasi politik belakangan ini, utamanya ketika terjadi debat sengit tentang etika bersidang para pejabat negara di DPR. Kita sering melihat, sebagai contoh, begitu mendebu-debunya seorang anggota DPR menuntut kehadiran seorang menteri di persidangan DPR , tetapi ketika menteri yang diundang akhirnya hadir, hanya segelintir anggota DPR yang hadir. Kita juga sering melihat anggota DPR yang semangat bertanya di awal persidangan , tetapi ketika sang menteri memberi jawaban, anggota DPR itu sudah tidak ber ada di ruang sidang , sibuk dengan urusan pribadinya di luar . Dari persidangan itu, kita bisa melihat bahwa anggota DPR merasa begitu powerful - nya dibandingkan dengan seorang menteri. Lihatlah, a nggota DPR mempunyai kewenangan memaksa seorang menteri untuk hadir di persidangan, tetapi menteri tidak memiliki kewenangan itu. Dalam sistem demokrasi  p...