Skip to main content

Menyederhanakan STNK

Di masa lalu, mengurus surat tanda nomor kendaraan (STNK) bermotor itu sangat menjengkelkan di Indonesia. Masyarakat harus mengikuti antrean yang panjang walaupun sudah dilayani dengan sistem pelayanan satu atap (SAMSAT). Tetap saja waktu itu calo banyak sekali yang berkeliaran agar kita tidak mengikuti antrean. 

Kemudian, muncul beberapa inovasi di daerah. Salah satu contohnya adalah masyarakat bisa memperpanjang STNK lintas kabupaten/kota. Artinya, mereka tidak perlu datang ke kabupaten/kota asal untuk perpanjangan tersebut. Sepanjang masih dalam satu provinsi, mereka bisa mendapatkan layanan perpanjangan STNK. 

Bahkan, beberapa daerah kemudian mengembangkannya menjadi layanan SAMSAT Mobile dan SAMSAT Mall. Kita bisa datang ke Mall atau ke mobil keliling terdekat untuk memperpanjang STNK. 

Sayangnya, berbagai layanan tadi masih juga meminta bukti asli identitas pemilik (KTP) dan juga bukti pemilikan kendaraan bermotor (BPKB). Ini maksudnya adalah ketika pemilik berpindah, mereka harus meregistrasi ulang terlebih dahulu dan membayar bea balik nama kendaraan bermotor (BBN-KB). Tentu itu menjadi peluang munculnya calo lagi atau fraud dengan mengabaikan persyaratan keaslian itu.

Mengatasi hal itu, kemudian kita sekarang memiliki Signal. Lewat aplikasi ini, kita bisa memperpanjang STNK secara online dan validasinya akan dikirim lewat kantor pos. Ini tentu menyenangkan. Sayangnya, ketika tahun kelima, kita harus lagi datang ke kantor SAMSAT. Alasannya, diperlukan pengecekan fisik kendaraan bermotor. Ini merepotkan lagi. 

Belum lagi ketika alamat KTP kita berubah lintas provinsi. Kita harus datang ke kantor SAMSAT asal dan meregistrasi ulang kendaraan bermotor kita ke kantor SAMSAT baru sesuai dengan alamat KTP kita. Kesannya, kita seperti hidup di negara bagian. Ketika berpindah tempat tinggal negara bagian, kita harus mengurus administrasi aset kita lagi. 

Hal ini berbeda dengan sekali dengan di Selandia Baru. Kita tinggal masuk ke aplikasi, bayar, dan kemudian dikirimkan kertas untuk ditempel di bawah kaca mobil, yang biasa disebut REGO, kepanjangan dari Vehicle Registration Holder. Ini yang nanti dicek oleh aparat. Kita tidak perlu membawa-bawa lembar STNK ke mana-mana lagi. Ini contoh REGO.


Ketika alamat kita berpindah, kita tidak perlu meregistrasi ulang dengan datang ke kantor SAMSAT. Begitu juga kalau berpindah kepemilikan. Semua lewat aplikasi saja dan hasilnya dikirim ke rumah kita.

Kapan hal itu bisa diterapkan di Indonesia?

Memang kemajuan layanan publik sudah banyak di Indonesia, tapi kita belum mendapatkan kemudahan seperti di negara yang sudah maju. Tugas kita semua menuju ke sana. 

Comments

Popular posts from this blog

Nama di Visa Berbeda dengan di Paspor

Ada pengalaman menarik di sini, yaitu ketika ada salah satu mahasiswa Indonesia tertahan lama di bandara Auckland hanya karena nama yang berbeda. Rupanya, yang bersangkutan telah mengubah namanya dari dua kata menjadi tiga kata di paspornya. Bagi yang pernah naik haji atau akan ke Saudi Arabia, pasti tahu adanya persyaratan khusus ini, di mana setiap orang harus mempunyai tiga kata pada namanya. Karena itu, biasanya kita mengubah nama di paspor menjadi tiga kata, walaupun awalnya di akte hanya ada satu atau dua kata terkait nama kita. Masalahnya, ketika Anda mendaftar visa ke New Zealand, nama mana yang akan digunakan? Nama yang tiga kata itu atau nama sebelumnya? Nach, ini yang terjadi. Karena mahasiswa tadi menggunakan dua kata pada nama di visanya yang berbeda di paspornya, akhirnya proses pemeriksaan di bandaran Auckland menjadi lama bagi dirinya (menurut info dari salah satu anggota rombongan). Ini akibatnya tidak hanya merepotkan dirinya, tetapi juga rombongannya. Akhirnya, rombo...

Tinggal di Pinggiran Auckland

Umumnya, mahasiswa di Auckland disarankan tinggal di city. Pertimbangan utama adalah agar tidak mengeluarkan biaya transportasi lagi ketika ke kampus. Cukup jalan kaki. Sebelum saya tiba di Auckland, saya sudah merancang tinggal di Auckland karena saya tidak terlalu nyaman tinggal di city. Dari kecil saya dibesarkan di city, kota Jakarta. Sebelum tinggal di Auckland, saya tinggal di pinggiran Jakarta, daerah Bintaro. Biasanya saya naik kereta atau kendaraan dinas jika menuju ke kantor. Kalau naik kendaraan dinas, saya tidak nyaman menyetir sendiri, biasanya disupiri oleh supir kantor. Saya sudah lama menikmati kehidupan di pinggiran. Akhir pekan bisa bersepeda ria dan banyak aktivitas lainnya. Nach, ketika akan ke Auckland, beberapa mahasiswa yang sudah lebih dahulu tinggal di Auckland sempat saya minta tolong untuk mencarikan tempat tinggal yang murah di arah selatan Auckland, seperti Mount Roskill, Mount Wellington, bahkan Manukau. Ternyata, mereka tidak ada yang berani merekom...

Paspor Biru atau Hijau?

Pertanyaan ini selalu muncul dari pegawai negeri yang akan kuliah di luar negeri. Ada tiga alasan kenapa Anda menggunakan paspor biru di masa lalu. Pertama, karena adanya fasilitas khusus. Kedua, karena untuk syarat pencairan dana, kalau sumber pengeluaran anggarannya dari pos APBN/D. Ketiga, untuk keperluan penyesuaian ijazah di Kemdikbud ketika pulang nanti. Namun, tidak semua hal itu sekarang ini relevan. Alasan pertama hanya berlaku kalau Anda pergi ke negara Asean. Ketika tiba di sana biasanya ada jalur khusus untuk paspor dinas/biru yang hampir disamakan dengan paspor diplomatik/merah tua ketika melalui jalur pemeriksaan di imigrasi mereka. Kenapa? Agak rumit menjelaskannya. Yang jelas ini untuk mempercepat karena tidak semua paspor dinas ter-release datanya ke komunitas imigrasi internasional untuk kepentingan tertentu. Kalau alasan pertama masih dikaitkan dengan kemudahan layanan ketika di pos pengecekan imigrasi Indonesia (keberangkatan/kepulangan), itu pun saat ini sudah tida...

Populernya Ubi Jalar di New Zealand

Di sini, ubi jalar dikenal dengan nama Kumara. Beberapa bulan di sini, saya sering bertanya-tanya, kenapa supermarket memberikan space yang lumayan luas untuk menjaja ubi jalar? Yang bisa menandingi penyediaan space yang luas ini, kalau saya lihat, hanyalah kentang. Kalau kentang diberikan space yang luas, tentu wajar saja karena budaya western sering memakan kentang. Di negera kita, ubi jalar sering dianggap sebagai makanan kelas bawah, di masa lalu. Syukurnya, belakangan ini kantor-kantor pemerintah sudah mulai membiasakan diri menyediakan ubi jalar untuk hidangan coffee break karena aman untuk mencegah kolesterol buruk. Tapi, kenapa di New Zealand ubi jalar juga populer? Rupanya, saya baru tahu dari teman istri yang sama-sama bekerja di rumah sakit. Ia kebetulan berasal dari Cina. Katanya, ubi jalar baik untuk mengobati masuk angin. Karenanya, banyak pelanggannya di sini. Ini akhirnya menjawab pertanyaan saya. Soalnya, di sini kita sering diterpa angin dan akhirnya sering masuk...

Bagaimana Kalau Melahirkan di New Zealand?

Saya pernah mendapat pertanyaan, apakah seorang istri yang kebetulan mahasiswi Dikti atau beasiswa lain yang non-NZAS ketika melahirkan di sini bisa mendapatkan fasilitas gratis di rumah sakit, seperti umumnya warga negara di sini? Setelah saya cek, ternyata bisa, asalkan pasangannya/suaminya mempunyai working visa minimal 2 tahun. Soalnya, fasilitas untuk si suami ini sama dengan mahasiswa NZAS, yang fasilitas ini berlaku juga untuk pasangan dan keluarganya. Definisi pasangan ( partner ) di sini pun sangat luas, di mana bisa berarti pasangannya itu secara biologis berkelamin pria atau wanita. Karena itu, jika dibalik logikanya, mahasiswa pria yang membawa istri, sebaiknya terlebih dahulu mengurus working visa minimal 2 tahun untuk istrinya agar ia (mahasiswa) dan anak-anaknya mempunyai hak sama ke fasilitas layanan kesehatan publik yang ada si sini. Ini juga akan membantu, di mana jika tidak penting sekali, ia tidak perlu mengurus insurance lagi untuk keluarganya kalau sudah...