Skip to main content

"Ginjal dan Sistem Destruksi pada Manusia"

Seorang teman pernah bercerita -- ketika orang tuanya meninggal -- pada dasarnya di setiap manusia itu sudah ditanamkan destructive system. Sistem ini yang telah mengatur kapan seorang manusia itu akan bertemu Sang Khalik, Yang Maha Pencipta. Itu tidak terhindarkan.

Saya awalnya tidak begitu mengerti apa yang dimaksudnya tentang sistem destruksi ini. Sampai minggu lalu saya mengikuti test darah di http://www.labtests.co.nz/ (tanpa biaya apapun karena di NZ ditanggung oleh negara). Biasanya dalam test darah kita hanya fokus terhadap tingkat kolesterol buruk kita. Logikanya, kolesterol buruk jika dibiarkan pada angka di luar normal akan menumpuk di pembuluh darah jantung kita. Yang lama-lama, akan menghambat fungsi jantung. Karenanya, kita pun selalu berusaha agar tingkat kolesterol buruk kita berada pada skala normal. Jika kita bisa mengendalikan kolesterol, maka jantung kita akan aman dan mungkin umur kita bisa lebih panjang. Artinya, kita bisa memperpanjang umur kita dengan mengendalikan kolesterol buruk di tubuh kita, jika dikehendaki oleh Yang Maha Kuasa.

Namun, ternyata dalam tubuh kita ada sebenarnya proses destruksi alami yang tidak terhindarkan. Apapun usaha yang kita lakukan, tidak mengubah proses destruksi ini. Dalam test darah hal ini bisa kita lihat pada indikator yang disebut eGFR (estimated glomerular filtration rate). Indikator ini mengukur fungsi ginjal kita. Indikator ini terkait langsung dengan umur kita. Sebuah sistem destruksi alami yang diciptakan oleh Yang Maha Pencipta.

Katakan, jika kita masih muda, fungsi ginjal kita idealnya 100%. Ketika kita berumur 60 tahun, fungsi ginjal kita sekitar 30%. Itu adalah proses alami yang tidak bisa kita hindarkan. Anda ingin berolahraga seperti apapun, proses destruksi itu akan terjadi. Ibarat sebuah mesin yang memproses apa yang kita masukkan, dan apa yang kita keluarkan, mesin ini juga lama-lama akan mengalami kehausan.

Penurunan atau damage fungsi ginjal secara normal tidak terhindarkan. Siapapun akan mengalaminya. Yang dijaga oleh dokter adalah jangan sampai proses destruksi ini terjadi lebih cepat dari jangka waktu normalnya. Misalnya, jika masih muda, jangan sampai fungsi ginjal kita sudah 30%. Sebab, tidak lama lagi akan menurun, dan ketika tinggal 15%, maka kita membutuhkan alat tambahan untuk mencuci darah kita. Dengan demikian, umurnya tidak akan lama lagi.

Sayangnya, pengetahuan terkait indikator eGFR ini jarang kita peroleh, dibandingkan pengetahuan tentang kolestorol dan fungsi jantung. Kebanyakan kita tahu-tahu sudah mengalami gagal ginjal. Indikasi gagal ginjal pun sering tanpa tanda-tanda. Bisa saja karena mengkonsumsi sesuatu, tiba-tiba kita mengalami gagal ginjal. Karena itu, kita harus berhati-hati dalam mengkonsumsi, terutama obat-obatan atau jamu yang bisa menghancurkan fungsi ginjal kita. Kadang karena mengalami sesuatu penyakit, dokter memberikan obat yang bisa menghancurkan fungsi ginjal kita secara total.

Sistem destruksi ini ternyata memang mengajarkan kepada kita bahwa kita bukan apa-apa di dunia ini. Kita hanya menjalankan apa yang diarahkan oleh Sang Maha Pencipta. Sehebat apapun kita, ada waktunya kita di dunia ini. Kita tidak bisa menghindari itu.

Comments

Popular posts from this blog

Nama di Visa Berbeda dengan di Paspor

Ada pengalaman menarik di sini, yaitu ketika ada salah satu mahasiswa Indonesia tertahan lama di bandara Auckland hanya karena nama yang berbeda. Rupanya, yang bersangkutan telah mengubah namanya dari dua kata menjadi tiga kata di paspornya. Bagi yang pernah naik haji atau akan ke Saudi Arabia, pasti tahu adanya persyaratan khusus ini, di mana setiap orang harus mempunyai tiga kata pada namanya. Karena itu, biasanya kita mengubah nama di paspor menjadi tiga kata, walaupun awalnya di akte hanya ada satu atau dua kata terkait nama kita. Masalahnya, ketika Anda mendaftar visa ke New Zealand, nama mana yang akan digunakan? Nama yang tiga kata itu atau nama sebelumnya? Nach, ini yang terjadi. Karena mahasiswa tadi menggunakan dua kata pada nama di visanya yang berbeda di paspornya, akhirnya proses pemeriksaan di bandaran Auckland menjadi lama bagi dirinya (menurut info dari salah satu anggota rombongan). Ini akibatnya tidak hanya merepotkan dirinya, tetapi juga rombongannya. Akhirnya, rombo...

Tinggal di Pinggiran Auckland

Umumnya, mahasiswa di Auckland disarankan tinggal di city. Pertimbangan utama adalah agar tidak mengeluarkan biaya transportasi lagi ketika ke kampus. Cukup jalan kaki. Sebelum saya tiba di Auckland, saya sudah merancang tinggal di Auckland karena saya tidak terlalu nyaman tinggal di city. Dari kecil saya dibesarkan di city, kota Jakarta. Sebelum tinggal di Auckland, saya tinggal di pinggiran Jakarta, daerah Bintaro. Biasanya saya naik kereta atau kendaraan dinas jika menuju ke kantor. Kalau naik kendaraan dinas, saya tidak nyaman menyetir sendiri, biasanya disupiri oleh supir kantor. Saya sudah lama menikmati kehidupan di pinggiran. Akhir pekan bisa bersepeda ria dan banyak aktivitas lainnya. Nach, ketika akan ke Auckland, beberapa mahasiswa yang sudah lebih dahulu tinggal di Auckland sempat saya minta tolong untuk mencarikan tempat tinggal yang murah di arah selatan Auckland, seperti Mount Roskill, Mount Wellington, bahkan Manukau. Ternyata, mereka tidak ada yang berani merekom...

Paspor Biru atau Hijau?

Pertanyaan ini selalu muncul dari pegawai negeri yang akan kuliah di luar negeri. Ada tiga alasan kenapa Anda menggunakan paspor biru di masa lalu. Pertama, karena adanya fasilitas khusus. Kedua, karena untuk syarat pencairan dana, kalau sumber pengeluaran anggarannya dari pos APBN/D. Ketiga, untuk keperluan penyesuaian ijazah di Kemdikbud ketika pulang nanti. Namun, tidak semua hal itu sekarang ini relevan. Alasan pertama hanya berlaku kalau Anda pergi ke negara Asean. Ketika tiba di sana biasanya ada jalur khusus untuk paspor dinas/biru yang hampir disamakan dengan paspor diplomatik/merah tua ketika melalui jalur pemeriksaan di imigrasi mereka. Kenapa? Agak rumit menjelaskannya. Yang jelas ini untuk mempercepat karena tidak semua paspor dinas ter-release datanya ke komunitas imigrasi internasional untuk kepentingan tertentu. Kalau alasan pertama masih dikaitkan dengan kemudahan layanan ketika di pos pengecekan imigrasi Indonesia (keberangkatan/kepulangan), itu pun saat ini sudah tida...

Populernya Ubi Jalar di New Zealand

Di sini, ubi jalar dikenal dengan nama Kumara. Beberapa bulan di sini, saya sering bertanya-tanya, kenapa supermarket memberikan space yang lumayan luas untuk menjaja ubi jalar? Yang bisa menandingi penyediaan space yang luas ini, kalau saya lihat, hanyalah kentang. Kalau kentang diberikan space yang luas, tentu wajar saja karena budaya western sering memakan kentang. Di negera kita, ubi jalar sering dianggap sebagai makanan kelas bawah, di masa lalu. Syukurnya, belakangan ini kantor-kantor pemerintah sudah mulai membiasakan diri menyediakan ubi jalar untuk hidangan coffee break karena aman untuk mencegah kolesterol buruk. Tapi, kenapa di New Zealand ubi jalar juga populer? Rupanya, saya baru tahu dari teman istri yang sama-sama bekerja di rumah sakit. Ia kebetulan berasal dari Cina. Katanya, ubi jalar baik untuk mengobati masuk angin. Karenanya, banyak pelanggannya di sini. Ini akhirnya menjawab pertanyaan saya. Soalnya, di sini kita sering diterpa angin dan akhirnya sering masuk...

Bagaimana Kalau Melahirkan di New Zealand?

Saya pernah mendapat pertanyaan, apakah seorang istri yang kebetulan mahasiswi Dikti atau beasiswa lain yang non-NZAS ketika melahirkan di sini bisa mendapatkan fasilitas gratis di rumah sakit, seperti umumnya warga negara di sini? Setelah saya cek, ternyata bisa, asalkan pasangannya/suaminya mempunyai working visa minimal 2 tahun. Soalnya, fasilitas untuk si suami ini sama dengan mahasiswa NZAS, yang fasilitas ini berlaku juga untuk pasangan dan keluarganya. Definisi pasangan ( partner ) di sini pun sangat luas, di mana bisa berarti pasangannya itu secara biologis berkelamin pria atau wanita. Karena itu, jika dibalik logikanya, mahasiswa pria yang membawa istri, sebaiknya terlebih dahulu mengurus working visa minimal 2 tahun untuk istrinya agar ia (mahasiswa) dan anak-anaknya mempunyai hak sama ke fasilitas layanan kesehatan publik yang ada si sini. Ini juga akan membantu, di mana jika tidak penting sekali, ia tidak perlu mengurus insurance lagi untuk keluarganya kalau sudah...