Skip to main content

INDONESIAKU, PERSOALAN KARAKTER BANGSA ATAU SISTEM?

Catatan ringan menyambut membaiknya indeks persepsi korupsi Indonesia. 

Minggu lalu saya mengikuti sharing seorang owner restoran yang menjual steak dengan harga 'terjangkau' di Indonesia. Ia mempunyai sekitar 80 cabang dan 1700 karyawan. Target market-nya para mahasiswa atau mereka yang berpendapatan menengah ke bawah. Kebetulan, pemilik restoran ini sedang berwisata ke Australia dan mempunyai teman di Auckland, Selandia Baru. Oleh temannya ini, ia digadang-gadang untuk berbagi pengalamannya dalam mengelola restorannya ke warga Indonesia yang bermukim di Auckland. Khususnya, berbagai pengalamannya dalam mengembangkan sekolah tahfidz dari pendapatan yang dihasilkan restoran tersebut. Sebagian pendapatan dari restoran tersebut digunakan untuk mendukung sekolah tahfidz tersebut. Suatu usaha yang mulia.

Ketika tiba di Auckland, pemilik restoran ini sangat kagum dengan apa yang dilihatnya. Dua komentarnya yang saya catat. Pertama, dia kagum ketika sedang akan menyeberang ternyata kendaraan yang akan lewat berhenti langsung dan mempersilahkannya lewat. Kedua, dia kagum dengan mesin parkir yang ada di sini. Masyarakat membayar langsung ke mesin tersebut tanpa ada petugas parkirnya.

Pemilik restoran ini lantas membandingkannya dengan Indonesia. Dia bilang, kalau di Indonesia kita susah sekali menyeberang. Kemudian, mesin parkir tidak akan jalan kalau tidak ada petugas parkirnya. Ia pun menyimpulkan ada persoalan 'karakter' di masyarakat Indonesia. Kita memang memiliki masalah karakter, katanya. Kesannya, rakyat Indonesia mempunyai karakter yang buruk.

Tadinya, saya ingin meluruskan pandangannya. Namun, karena ia harus pergi setelah acara tersebut untuk kepentingan lain, saya tidak sempat meluruskan pandangannya.

Yang saya ingin luruskan adalah, kita sering meng-underestimate permasalahan di Indonesia hanya melihat dari karakter bangsanya. Padahal, kalau tidak karena karakter yang kuat, tidak mungkin bangsa Indonesia bisa memerdekakan dirinya dari para kolonialis (dalam bahasa masa kini, mereka disebut kapitalis atau mungkin juga investor). Pendiri NKRI tentu mereka yang memiliki karakter yang kokoh. Bisa dibayangkan, dengan karakternya yang kuat itu mereka mempunyai cita-cita dan memproklamasikan berdirinya negara kesatuan (integrated state) pada tahun 1945. Padahal, banyak tantangannya. Mereka bercita-cita mengintegrasikan daerah-daerah yang secara pemerintahan masih dikelola oleh berbagai kerajaan di nusantara. Mereka juga bercita-cita mengintegrasikan manusia-manusia yang berasal dari berbagai suku bangsa yang berbeda. Indonesia adalah negara suku bangsa yang berasal dari India, Cina, Eropa, bahkan Afrika yang kini bermetamorfosis menjadi suku Jawa, Sunda, Batak, Ambon, dan seterusnya. Belum lagi, pendiri bangsa kita itu bercita-cita mengintegrasikan berbagai daerah yang secara fisik sebenarnya sudah terpisah-pisah oleh lautan, berbagai kepulauan yang tersebar.

Jika tidak karena karakter yang kuat, cita-cita itu tentu tidak akan ada lagi yang mau meneruskannya saat ini. Dengan berbagai tantangan dari segi sejarah pemerintahan masa lalu, manusianya yang beragam, dan lokasi fisiknya yang tersebar, tentu tidak banyak orang yang dengan tegar mau terus-menerus merealisasikan cita-cita founder kita tersebut. Namun, kita bisa lihat sampai sekarang masih banyak rakyat dan pemimpinnya di Indonesia yang begitu kokoh mempertahankan cita-cita tersebut. Bahkan, mereka menggenggam dengan kokoh slogan populer seperti "NKRI Harga Mati".

Cara pandang yang terlalu cepat menyalahkan karakter manusia sebagai persoalan di Indonesia biasanya disimpulkan oleh mereka yang sesaat saja pernah berwisata atau studi di luar negeri. Ketika mereka pulang, mereka terkagum-kagum dengan apa yang dilihatnya, membandingkannya dengan Indonesia, dan lantas pesimis dengan apa yang terjadi di Indonesia. Padahal, apa yang dilihatnya sesaat itu di negara lain tidak selalu merepresentasikan kondisi real yang ada. Tidak selalu loch "rumput tetangga itu lebih hijau dari rumput kita".

Sebagai contoh, terkait dengan yang dilihat oleh pemilik restoran tadi. Ia diperlakukan demikian karena menyeberang di jalur zebra cross. Jika saja ia menyeberang di jalur biasa yang tidak ada zebra cross-nya, pengemudi di sini tidak segan-segan untuk menabrakkan mobilnya ke penyeberang jalan. Sebab, mereka merasa berada pada posisi yang tidak salah. Jika pun nanti terjadi accident, maka pengemudi tadi tidak akan disalahkan.

Contoh kedua adalah mesin parkir. Pengemudi kendaraan yang memarkirkan mobilnya akan taat membayar biaya parkir ke mesin parkir bukan semuanya karena karakternya. Siapapun tidak mau membayar parkir yang cukup mahal. Inginnya tentu parkir gratis. Mereka terpaksa taat membayar parkir karena ada petugas penegak sistem parkir (parking warden) yang secara periodik berkeliling mengecek apakah ada mobil yang tidak menampilkan karcis parkirnya. Petugas ini akan memberikan tiket dengan nilai lumayan jika karcis tadi tidak ditampilkan di dashboard mobil kita atau menampilkan karcis dengan waktu sudah kadaluarsa. Bahkan, mereka tidak segan-segan mengangkut mobil kita (towing) jika kita memarkir di tempat yang terlarang, seperti lahan pribadi orang lain.

Dari kedua contoh ini, tampak jelas bahwa hal itu berjalan dengan baik karena adanya sistem yang dibangun. Sistem itu kemudian dijalankan dengan ketat. Dalam sistem tersebut juga ada pihak-pihak yang gigih menegakkan sistem agar berjalan dengan baik.

Kita juga sering pesimis dengan Indonesia terkait dengan kriminalitas dan korupsi. Padahal, bukan berarti kita lebih buruk. Dalam masalah kriminal, tingkat kriminalitas memecahkan kaca mobil yang parkir di malam hari demikian tingginya di Auckland. Ketika kita memarkir mobil di dekat taman (yang biasanya bebas biaya parkir di malam hari), risiko dipecahkannya kaca mobil kita tinggi. Hal ini terjadi karena banyak orang yang bermabukan di taman pada malam hari dan kemudian di luar alam sadarnya memecahkan kaca mobil yang sedang parkir di sekitar taman. Namun, informasi ini kurang terungkap karena pemilik mobil di sini biasanya memiliki asuransi. Pihak asuransi pun tidak menanyakan di mana kejadiannya ketika kaca mobil kita dipecahkan. Mereka akan langsung menggantinya dengan mengontak salah satu kontraktornya untuk memperbaiki kaca mobil kita yang dipecahkan tersebut. Kita juga tidak perlu melaporkan ke polisi untuk itu. Dengan demikian, informasi kriminal seperti ini tidak terpublikasikan dengan luas. Bandingkan dengan di Indonesia yang saat ini informasi kriminal hampir tiap saat terpublikasikan.

Begitu juga dengan informasi korupsi. Bukan berarti korupsi tidak tinggi di sini. Korupsi selalu saja ada. Selalu saja ada orang yang ingin mengambil keuntungan dengan mudah. Contohnya, baru-baru ini ada seorang kepala sekolah didakwa karena memanipulasi anggaran sekolah untuk kepentingan dirinya. Namun, bedanya di Indonesia, mereka yang dijadikan tersangka itu tidak bisa begitu saja bisa diumumkan namanya dan di-bully di media massa. Mereka bisa meminta agar namanya tidak diungkap secara terbuka dengan alasan tertentu (name suppression).

Pesimisme pemberantasan korupsi di Indonesia muncul karena begitu terbukanya media saat ini. Hampir setiap hari kita dibombardir oleh media tentang kasus korupsi dengan alasan transparansi; walaupun kasus korupsi itu masih dugaan. Hal ini membangun terus-menerus alam luar sadar kita bahwa Indonesia adalah negara yang korup dan membuat kita semakin pesimis dengan Indonesia dan kemudian mengambil simpulan sedemikian buruknya karakter bangsa Indonesia. Padahal, tidak selalu demikian halnya.

Kita harus selalu mempunyai kepercayaan bahwa masih banyak rakyat Indonesia yang mempunyai karakter yang baik. Beberapa masyarakat Indonesia yang mempunyai karakter buruk bisa dibangun menjadi semakin baik jika sistem dijalankan dan ditegakkan. Kita sebagai warga Indonesia harus percaya bahwa setahap demi setahap kita bisa membangun sistem tersebut dan karenanya kita membutuhkan optimisme untuk itu. Hal ini telah dibuktikan dengan berhasilnya kita menaikkan ranking Indeks Persepsi Korupsi (IPK) dari sekitar 100-an lebih di masa lalu menjadi ranking 88 belakangan ini. Skor kita juga membaik menjadi 36 saat ini (dari sebelumnya hanya 19 di tahun 2000!).

Comments

Popular posts from this blog

AKIBAT BEDA NAMA DI VISA DENGAN DI PASPOR

Ada pengalaman menarik di sini, yaitu ketika ada salah satu mahasiswa Indonesia tertahan lama di bandara Auckland hanya karena nama yang berbeda. Rupanya, yang bersangkutan telah mengubah namanya dari dua kata menjadi tiga kata di paspornya. Bagi yang pernah naik haji atau akan ke Saudi Arabia, pasti tahu adanya persyaratan khusus ini, di mana setiap orang harus mempunyai tiga kata pada namanya. Karena itu, biasanya kita mengubah nama di paspor menjadi tiga kata, walaupun awalnya di akte hanya ada satu atau dua kata terkait nama kita. Masalahnya, ketika Anda mendaftar visa ke New Zealand, nama mana yang akan digunakan? Nama yang tiga kata itu atau nama sebelumnya? Nach, ini yang terjadi. Karena mahasiswa tadi menggunakan dua kata pada nama di visanya yang berbeda di paspornya, akhirnya proses pemeriksaan di bandaran Auckland menjadi lama bagi dirinya (menurut info dari salah satu anggota rombongan). Ini akibatnya tidak hanya merepotkan dirinya, tetapi juga rombongannya. Akhirnya, rombo...

TINGGAL DI PINGGIRAN AUCKLAND

Umumnya, mahasiswa di Auckland disarankan tinggal di city. Pertimbangan utama adalah agar tidak mengeluarkan biaya transportasi lagi ketika ke kampus. Cukup jalan kaki. Sebelum saya tiba di Auckland, saya sudah merancang tinggal di pinggiran Auckland karena saya tidak terlalu nyaman tinggal di city. Dari kecil saya dibesarkan di city, kota Jakarta. Sebelum tinggal di Auckland, saya tinggal di pinggiran Jakarta, daerah Bintaro. Biasanya saya naik kereta atau kendaraan dinas jika menuju ke kantor. Kalau naik kendaraan dinas, saya tidak nyaman menyetir sendiri, biasanya disupiri oleh supir kantor. Saya sudah lama menikmati kehidupan di pinggiran. Akhir pekan bisa bersepeda ria dan banyak aktivitas lainnya. Nach, ketika akan ke Auckland, beberapa mahasiswa yang sudah lebih dahulu tinggal di Auckland sempat saya minta tolong untuk mencarikan tempat tinggal yang murah di arah selatan Auckland, seperti Mount Roskill, Mount Wellington, bahkan Manukau. Ternyata, mereka tidak ada yang berani mer...

PASPOR BIRU ATAU HIJAU?

Pertanyaan ini selalu muncul dari pegawai negeri yang akan kuliah di luar negeri. Ada tiga alasan kenapa Anda menggunakan paspor biru di masa lalu. Pertama, karena adanya fasilitas khusus. Kedua, karena untuk syarat pencairan dana, kalau sumber pengeluaran anggarannya dari pos APBN/D. Ketiga, untuk keperluan penyesuaian ijazah di Kemdikbud ketika pulang nanti. Namun, tidak semua hal itu sekarang ini relevan. Alasan pertama hanya berlaku kalau Anda pergi ke negara Asean. Ketika tiba di sana biasanya ada jalur khusus untuk paspor dinas/biru yang hampir disamakan dengan paspor diplomatik/merah tua ketika melalui jalur pemeriksaan di imigrasi mereka. Kenapa? Agak rumit menjelaskannya. Yang jelas ini untuk mempercepat karena tidak semua paspor dinas ter-release datanya ke komunitas imigrasi internasional untuk kepentingan tertentu. Kalau alasan pertama masih dikaitkan dengan kemudahan layanan ketika di pos pengecekan imigrasi Indonesia (keberangkatan/kepulangan), itu pun saat ini sudah tida...

POPULERNYA UBI JALAR (KUMARA) DI NEW ZEALAND

Di sini, ubi jalar dikenal dengan nama Kumara. Beberapa bulan di sini, saya sering bertanya-tanya, kenapa supermarket memberikan space yang lumayan luas untuk menjaja ubi jalar? Yang bisa menandingi penyediaan space yang luas ini, kalau saya lihat, hanyalah kentang. Kalau kentang diberikan space yang luas, tentu wajar saja karena budaya western sering memakan kentang. Di negera kita, ubi jalar sering dianggap sebagai makanan kelas bawah, di masa lalu. Syukurnya, belakangan ini kantor-kantor pemerintah sudah mulai membiasakan diri menyediakan ubi jalar untuk hidangan coffee break karena aman untuk mencegah kolesterol buruk. Tapi, kenapa di New Zealand ubi jalar juga populer? Rupanya, saya baru tahu dari teman istri yang sama-sama bekerja di rumah sakit. Ia kebetulan berasal dari Cina. Katanya, ubi jalar baik untuk mengobati masuk angin. Karenanya, banyak pelanggannya di sini. Ini akhirnya menjawab pertanyaan saya. Soalnya, di sini kita sering diterpa angin dan akhirnya sering masuk...

BAGAIMANA KALAU MELAHIRKAN DI NEW ZEALAND?

Saya pernah mendapat pertanyaan, apakah seorang istri yang kebetulan mahasiswi Dikti atau beasiswa lain yang non-NZAS ketika melahirkan di sini bisa mendapatkan fasilitas gratis di rumah sakit, seperti umumnya warga negara di sini? Setelah saya cek, ternyata bisa, asalkan pasangannya/suaminya mempunyai working visa minimal 2 tahun. Soalnya, fasilitas untuk si suami ini sama dengan mahasiswa NZAS, yang fasilitas ini berlaku juga untuk pasangan dan keluarganya. Definisi pasangan ( partner ) di sini pun sangat luas, di mana bisa berarti pasangannya itu secara biologis berkelamin pria atau wanita. Karena itu, jika dibalik logikanya, mahasiswa pria yang membawa istri, sebaiknya terlebih dahulu mengurus working visa minimal 2 tahun untuk istrinya agar ia (mahasiswa) dan anak-anaknya mempunyai hak sama ke fasilitas layanan kesehatan publik yang ada si sini. Ini juga akan membantu, di mana jika tidak penting sekali, ia tidak perlu mengurus insurance lagi untuk keluarganya kalau sudah...